Wednesday, July 1, 2015

Pelabuhan Tobelo

Mengenang Pembantaian Muslim Di
Ambon Oleh Kristen, Agama Yang
Penuh Damai Dan Kasih…
1 Suara
Tobelo merupakan sebuah kota kecamatan di
Maluku Utara. Tragedi pembantaian Tobelo
merupakan rangkaian kasus Ambon Berdarah yang
terjadi sejak 19 Januari 1999. Kasus Tobelo sendiri
berlangung mulai 24 Desember 1999 hingga 7
Januari 2000. Menurut catatan Tim Investigasi Pos
Keadilan Peduli Ummat, 688 orang tewas dan
1.500 dinyatakan hilang.
Tragedi pembantaian di Tobelo ini, bermula ketika
Sinode GMIH (Gereja Masehi Injil di Halmahera)
mengkoordinir pengungsian umat Kristen ke
Tobelo, yang jumlahnya mencapai 30.000 orang,
yang dilakukan secara bertahap, sejak
pertengahan November hingga awal Desember
1999. Puncaknya, pada Jumat 24 Desember 1999
malam (menjelang Hari Natal 25 Desember 1999)
dengan beberapa buah truk, telah diangkut ratusan
warga Kristen dari Desa Leleoto, Desa Paso dan
Desa Tobe ke Tobelo. Dengan alasan untuk
pengamanan gereja. Warga Kristen yang diangkut
tersebut menggunakan atribut lengkap (seolah-
olah mau perang), seperti kain ikat kepala
berwarna merah, tombak, parang dan panah.
Mengetahui gelagat yang kurang baik dari warga
Kristen tersebut, umat Islam Tobelo mulai
merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Saat itu
umat Islam sedang dalam suasana menjalankan
ibadah shaum ramadhan. Akhirnya pada 26
Desember 1999, pecahlah pembantaian yang
dikesankan adanya kerusuhan, konflk horizontal.
Padahal, sebelumnya tidak ada konflik apa-apa.
Tragedi ini konon dipicu oleh adanya persoalan
sepele berupa pelemparan batu terhadap rumah
milik Chris Maltimu seorang purnawirawan polisi.
Rupanya pelemparan terhadap rumah Chris
Maltimu itu dijadikan trigger untuk aksi
pembantaian yang sudah dirancang sebelumnya.
Menurut Ode Kirani, warga muslim dari desa
Togoliwa, kecamatan Tobelo, Halmahera, pada 27
Desember 1999, saat warga desa sedang
menjalankan ibadah puasa, tanpa diduga
sebelumnya ribuan masa kristen yang berasal dari
desa tetangga (antara lain, Telaga Paca, Tobe,
Tomaholu, Yaro, dan lain-lain) menyerang desa
Togoliwa di saat subuh. Akibat serangan
mendadak tersebut ribuan warga muslim di desa
tersebut menemui ajal. Kebanyakan dari mereka
terbunuh saat berlindung di masjid. (Ambon,
Laskarjihad.or.id 16 03 2001).
Rabu, 29 Desember 1999, di Mesjid Al Ikhlas
(Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan
anak-anak, terjadi pembantaian terhadap sekitar
400 (empat ratus) jiwa. Menurut penuturan saksi
mata, ada korban yang sempat jatuh dicincang dan
dijejerkan kepala mereka di ruas jalan. Ada juga
beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe
(sekitar 9 KM ) dari Desa Togoliwa, kemudian
dikembalikan dalam keadaan telanjang. Modus
operasi yang dilakukan oleh kelompok merah
mula-mula melakukan pemboman kemudian
dilanjutkan dengan pembakaran, sehingga tidak
ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka.
Menurut sebuah sumber, total korban di Tobelo
dan Galela mencapai 3000 jiwa, 2800 di antaranya
Muslim. Namun demikian, angka yang diakui Max
Marcus Tamaela yang kala itu menjabat sebagai
Pangdam Pattimura adalah 771 jiwa. Meski angka
itu masih jauh dari kenyataan, namun masih jauh
lebih banyak dibanding dengan angka yang diakui
Gus Dur yaitu ‘hanya’ lima orang saja.
Ketika pembantaian Tobelo terjadi, Gus Dur
menjabat sebagai Presiden RI. Bila menurut
penglihatannya korban Tobelo-Galela hanya lima
orang saja, kita harus maklum. Karena, pertama,
Gus Dur itu pembela kaum minoritas. Kedua,
penglihatannya memang terganggu. Kala itu,
Menkopolkam dijabat oleh Wiranto, dan Panglima
TNI dijabat oleh Widodo AS. Sayangnya, posisi
mereka saat itu tidak bisa memperbaiki kualitas
penglihatan Gus Dur terhadap kasus pembantaian
umat Islam di sana. Padahal mereka juga
beragama Islam.
Hajjah Aisyah Aminy, SH, yang kala itu menjabat
sebagai anggota Komnas HAM, menyesalkan sikap
aktivis LSM yang selama ini dikenal sebagai
pejuang keadilan masyarakat, namun membisu
ketika umat Islam yang jadi korban. Aisyah juga
menyesalkan sikap media massa yang kurang
antusias memberitakan peristiwa di Maluku itu.
Tapi kalau yang mati adalah teman mereka sendiri,
meski hanya satu orang seperti Munir, mereka
heboh bukan main dengan membawa-bawa alasan
pelanggaran HAM sampai ke hadapan Bush segala.
Bila kita mendasarkan pada angka yang diakui
Tamaela, yaitu 771 jiwa, jumlah itu pun masih jauh
lebih banyak dari korban Bom Bali Pertama dan
Kedua. Apalagi bila ditambah dengan korban
pembantaian yang dilakukan Tibo cs terhadap
warga pesantren Walisongo, jumlah koran Bom Bali
secara keseluruhan masih jauh lebih kecil. Namun
perhatian dunia, kalangan LSM, kalangan pers, dan
pemerintah Indonesia sendiri, kurang hirau bahkan
cenderung mengabaikan korban Tobelo-Galela dan
Poso (termasuk warga Pesantren Walisongo)
Kesaksian Korban Kerusuhan Maluku
Kebiadaban massa Kristen terhadap umat Islam di
Maluku memang sungguh keterlaluan. “Ini
merupakan peristiwa keji yang lebih sadis dari apa
yang dilakukan PKI,” tegas Camat Galela, Drs.
Ichwan Marzuki (Republika, 5/1) . Dibawah ini
hanyalah segelintir dari saksi hidup yang berani
memberi kesaksian seputar kekejaman umat
Kristen di Maluku.
Mufli M. Yusuf (15 th) SMP Al-Khairat Kelas III,
Desa Popelo,Tobelo:
Rabu, (21/12/99) pk.09.00 WIT. Orang-orang
Kristen dari Kampung Kusur Telaga Panca, dan
Kao menyerang Desa Togolihua yang Muslim.
Kami, ribuan umat Islam, berlindung ke Masjid al-
Ikhlas. Masjid dikepung lalu di bom (bom pipa
rakitan, menunjukkan bahwa pihak Kristen sudah
mengadakan persiapan sebelumnya). Orang-orang
kafir itu juga memanah ke dalam Masjid dengan
panah yang telah dilumur darah babi. Sebagian dari
mereka melempari Masjid dengan batu-batu besar
hingga banyak tembok Masjid yang bolong. Kami
yang ada di Masjid –kebanyakan anak kecil dan
ibu-ibu– akhirnya menyerah setelah satu jam di
gempur perusuh Kristen.
Orang-orang kafir itu lalu menyerbu ke dalam
Masjid, lebih dari 500 orang Islam lari keluar
Masjid. Ada yang masuk hutan, ada pula yang
menyerah. Tubuh saya berlumur darah, mungkin
sebab itu mereka mengira saya sudah mati. Di
sekeliling saya ada banyak sekali, sekitar 600
orang, syahid dengan kondisi amat menyedihkan.
Dalam penyerangan itu, saya lihat banyak
muslimah yang ditelanjangi orang Kristen. Walau
para muslimah itu berteriak-teriak minta ampun,
tapi dengan biadab mereka diperkosa beramai-
ramai di halaman Masjid dan di jalan-jalan. Setelah
itu mereka di bawa ke atas truk, juga anak-anak
kecilnya, katanya mau dipelihara oleh orang
Kristen. Para muslimah yang tidak mau ikut
langsung dicincang hidup-hidup. Orang kafir itu
saling berebutan mencincang bagai orang
berebutan mencincang ular.
Seorang muslimah digantung hidup-hidup lalu
dibakar. Pukul 13.00 WIT, perusuh Kristen itu
membakar habis Masjid dengan lebih 600 tubuh
syuhada didalamnya. Saya yang penuh luka bakar
dengan susah payah keluar dari Masjid lewat
tembok yang bolong. Saya mencari orang Islam
yang masih hidup, tapi tidak ada. Semua rumah
penduduk Muslim juga sudah terbakar. Saya
akhirnya bertemu dengan seorang Polisi Muslim
dan dibawa ke Polsek. Saya dirawat selama tujuh
hari bersama korban yang lain. Dan kini saya
berada di suatu tempat di Ternate.
Ibu Musriah (40 th) Pengungsi asal Makian Talaga:
Saya juga berlindung di Masjid yang sama. Lebih
dari 50 laki-laki Muslim dicincang termasuk suami
saya. Bagian belakang kepala saya juga mereka
tebas dengan golok, tapi alhamdulillah saya masih
hidup. Telapak tangan saya ini ditembus panah.
Saya dan tiga orang anak lainnya diselamatkan
aparat Muslim.
Ibu Nurain (20 th):
Suami saya, Asnan Awal, telah syahid dibunuh
orang kafir. Saya sendiri dalam peristiwa yang
sama kena panah di panggul kiri. Di dalam Masjid,
ibu-ibu dan anak-anak kecil banyak yang
ketakutan. Saya lihat dengan mata kepala saya
sendiri, banyak anak-anak usia balita diambil oleh
orang Kristen dengan paksa. Saya memohon
dengan lemah agar saya dan anak saya yang
masih kecil (3 th) jangan dibunuh. Akhirnya
bersama enam Muslimah lainnya, saya diikatkan
kain merah di kepala dan di masukkan ke atas
truk. Kami melewati Desa Kupa-Kupa, di Desa
Usosiat, anak saya diambil dan diserahkan ke
rumah pendeta. Saya waktu di Masjid juga melihat
ada seorang Muslimah yang masih gadis dibakar
hidup-hidup gara-gara tidak mau melayani
syahwat orang kafir itu.
Ibu Yani Latif (17 th):
Suami saya telah syahid. Anak saya, yang masih
bayi, Nita (13 bulan) diambil orang Kristen. Dengan
truk saya juga dibawa ke Desa Kupa-Kupa, tapi
saya melarikan diri dan kembali ke Togolihua.
Masjid al-Ikhlas telah jadi puing dengan tumpukan
mayat yang telah hangus terbakar.
Syahnaim (25 th):
Dua anak saya yang berusia enam dan tujuh tahun
diambil orang Kristen. Sedang adiknya, Awi (2 th)
dicincang mereka hingga syahid. Saya melihat
sendiri, bagaimana sadisnya Bahrul (32 th) dibunuh
orang kafir. Mayatnya disalib, dan naudzubillah,
kemaluannya dipotong. Lalu potongannya itu
disumpalkan ke mulut mayatnya. Seorang anak
balita, Saddam (5 th) digantung lalu dibelah dari
atas ke bawah seperti ikan. Nenek Habibab (80 th)
digantung di pohon jeruk yang diikat dengan
rambutnya di pohon lalu dicincang.
Hamida Sambiki (18 th) , muslimah ini diambil
paksa oleh orang Kristen dari Masjid An-Nashr
Desa Popelo. Ayahnya yang berusaha menahan
dibantai. Para perusuh Kristen merencanakan mau
mengawinkan Hamida dengan anak pendeta di
Tobelo. Namun oleh seseorang yang mengaku
keluarga Nasrani, Hamida berhasil diselamatkan ke
Polsek Tobelo. Hamida saat di Masjid An-Nashr
melihat pembantaian umat Islam oleh perusuh
Kristen.
Munir (25 th) dibakar hidup-hidup dan mulutnya
disumpal kotoran manusia, Haji Man (70 th)
dipenggal lalu kepalanya yang sudah terpisah
dengan tubuhnya itu ditusuk dengan panah dan
dibuat mainan diputar-putar di dalam Masjid.
Hamida juga melihat bagaimana seorang Muslim,
Malang (50 th), dibunuh secara sadis. Kemudian
jantungnya diambil. Orang kafir yang mengambil
jantungnya berkata, “Ini buat hadiah lebaran”
Ridwan Kiley (29 th) dan Ibu Rahmah Rukiah,
Keduanya penduduk Desa Lamo, Kecamatan
Galela. Menuturkan kesaksiannya, setelah selamat
dari ‘neraka’ pembantaian orang Kristen di Galela
(26/12), di Islamic Centre, Ambon, seperti dikutip
dalam Republika (5/1). Pada Ahad sore (26/12/99),
Kecamatan Galela yang didiami mayoritas Muslim
diserang massa Kristen dari tiga Kecamatan
mayoritas Kristen: Loloda, Ibu, dan Tobelo.
Penyerangan di Galcia, juga menimpa Desa Lamo.
Pukul 14.00 siang lebih dari 7.000 massa Kristen
menyerang. Sekitar 200 warga Muslim Desa Lamo
bertahan. Perlawanan itu dipimpin Imam Masjid
Nurul Huda, Ds. Lamo, H. Djailani. Saat itu, massa
Kristen memotong puluhan ekor babi disepanjang
kampung dan darahnya dilumuri ke senjata-
senjatanya. “Wanita-wanita mereka juga
bertelanjang dan menari-nari di sepanjang
kampung,” kata Ridwan dan Ibu Rukiah. Tak
berapa lama, serangan serentak dilakukan dan
Desa Lamo dikepung. Dalam pertempuran, Imam
Djailani menemui syahid. Dengan sadis mayat
Imam Djailani di salib dan ditempatkan di
perbatasan Desa Lamo dan Kampung Duma.
Setelah beberapa jam tergantung di tiang salib,
baru pada malam harinya mayat Imam Djailani
diturunkan dan dikuburkan oleh warga Muslim
yang berhasil menyelamatkan diri.
JANGAN BIARKAN HIDUP APAPUN YANG
BERNAFAS (ULANGAN 20 ; 16) JANGAN ADA
BELAS KASIHAN, BUNUH SEMUANYA, TMASUK
WANITA N ANAK2 YG MASI NYUSU (SAMUEL 15 ;
3) REMUKKAN BAYI2, BELAH PERUT WANITA
HAMIL (HOSEA 13 ; 16)